Saturday , 31 October 2020

Info Terbaru

FAMILY GATHERING KELUARGA MICROTIA INDONESIA BERSAMA RS UNAIR DI SEMARANG

November 27, 2019 8:33 am Category: Agenda & Event, Berita & Informasi, Slideshow

Keluarga microtia Indonesia menggelar acara Family Gathering para pasien dan keluarga dengan kelainan “Microtia”, Minggu 24 november 2019 bertempat di Kampung Banyu Mili, Tuntang, Kabupaten Semarang. Acara ini merupakan ajang silaturahmi dan temu kangen para microtian dan keluarganya. Para microtian  yang sudah melakukan operasi rekonstruksi juga berbagi pengalamannya di sini. Selain itu peserta juga bisa menambah pengetahuan dari para dokter Airlangga Microtia  Center (RS UNAIR) mengenai pendengaran, operasi dan psikologi anak microtia dan juga konsultasi gratis dengan para dokter microtia RS UNAIR.

Berlokasi di salah satu tempat rekreasi di Semarang, para microtian bersama keluarganya disuguhi pemandangan  yang alami. Peserta datang dari seluruh Indonesia seperti, Ambon, Palembang, Jakarta, Banten, Pangandaran, Blora, Purworejo, Semarang, Surabaya, dan lain-lain. Dalam acara family gathering ini pasien dan keluarga di paparkan secara jelas oleh para ahli microtia dari RS UNAIR yaitu dr. Indri Lakshmi Putri,Sp.BP-RE (KKF), dr. Rosa Valeria Sp.THT-KL , dan juga dr. Izzatul Fitriyah Sp.KJ  lewat sesi Interaktif.

Sesi interaktif pertama bersama satu dari tiga ahli microtia yang dimiliki Indonesia yaitu dr. Indri Lakshmi Putri,Sp.BP-RE (KKF) dengan tema  rekonstruksi telinga. Kemudian sesi kedua bersama dr. Rosa Valeria Sp.THT-KL  dengan tema pendengaran, pemeriksaan pendengaran  dan alat bantu dengar. Sesi interaktif terakhir bersama dr. Izzatul Fitriyah Sp.KJ dengan tema  Aspek Psikologis Microtia dan Rekonstruksinya. Selain sesi interaktif juga terdapat sharing session bersama para microtian dan keluarga serta konsultasi gratis dengan para dokter.

foto bersama keluarga microtia Indonesia

Menurut dr. Indri Lakshmi Putri,Sp.BP-RE (KKF), microtia adalah kelainan pada telinga berupa kelainan yang ada sejak lahir, dimana telinga memiliki ukuran kecil, dimana micro artinya kecil, otia artinya telinga sehingga disebut telinga kecil. Penyebab microtia ada dua yaitu internal dan ekstrenal. Internal itu diakibatkan mutasi geneteik atau kelainan kromosom pada bayi atau janin yang dikandung. Sedangkan penyebab eksternal itu berasal dari ibunya. Bisa usia ibu lebih dari 35 tahun saat hamil atau pada trimester pertama ibu mengalami infeksi, kekurangan nutrisi, terkena radiasi, stres psikis dan konsumsi obat-obatan toxic atau jamu ketika khamilan.

Yang harus dilakukan orang tua ketika mengetahui anak terkena microtia yaitu bayi usia dua hari sudah bisa dilakuakn pemeriksaan Oto Accoustic Emission (OAE) bila ada liang telinganya. Setelah dilanjutkan dengan pemeriksaan Brain Evoked Response Auditory (BERA) yaitu pemeriksaan pendengaran pada bayi usia  dua atau tiga bulan untuk mengetahui ambang pendengarannya.  CT Scan bisa dilakukan pada usia lima tahun atau bisa dilakukan lebih dini jika ditemukan indikasi semisal  ada infeksi pada telinga. Sementara, rekonstruksi daun telinga paling cepat bisa dilakukan ketika lingkar dada para microtian ini minimal  60 cm. Apabila lingkar dada sudah lebih dari 60 cm maka bisa dilakukan rekonstruksi daun telinga.

Menurut, dr. Izzatul Fitriyah Sp.KJ, cara menyikapi microtia ketika atau anak kita mengalami microtia yang harus dilakukan adalah kita harus menonjolkan kelebihan diri kita atau anak kita. Karena microtia sebenarnya hanya sebagaian kecil dari bagian kita, jadi tidak perlu menjadi suatu masalah yang besar. Akan tetap prosedur untuk memperbaiki microtia tentunya akan membantu peningkatan self estem dikemudian hari.

penyerahan plakat kepada dr. Rosa Valeria Sp.THT-KL , dr. Izzatul Fitriyah Sp.KJ dan dr. Indri Lakshmi Putri,Sp.BP-RE (KKF),

Yayan, salah satu orang tua peserta penderita microtia usia 9 bulan dari Jakarta, mengaku senang dan antusias dengan diadakannya family gathering keluarga microtia ini. Yayan sendiri mengetahui kegiatan ini dari grup whatsapp keluarga microtia Indonesia. “menurut saya karena microtia ini merupakan penyakit yang masih jarang diketahui orang, alangkah baiknya agenda terkait dengan seminar atau pertemuan-pertemuan terkait dengan microtia lebih sering lagi diadakan, mungkin setahun bisa dua atau tiga kali”, ujar Yayan. “Setau saya kegiatan gathering seperti ini  baru diadakan setahun sekali, dan untuk kami yang baru mengenal apa itu microtia rasanya cukup kurang, harus kemana lagi mencari informasi terkait dengan microtia”, imbuh Yayan.

Selain itu menurut Yayan, nilai postif dari sisi psikologis  bagi pasien untuk kegiatan ini adalah membuat pasien bisa menyadari bahwa dirinya tidak hanya sendiri yang menderita microtia. Dan dari sisi yang lain dia juga bisa melihat teman-teman yang lain sehingga bisa  membangun kepercayaan dirinya sendiri semakin meningkat.

Bagus Priyatna, salah satu peserta microtia asal Palembang yang rela menempuh perjalanan 20 jam naik bis dari Palembang ke Semarang, mengaku mengikuti kegiatan ini karena ingin berkumpul dengan keluarga microtia Indonesia. “Karena saya sudah merasakan dan menganggap bahwa ini adalah keluarga kedua saya setelah keluarga yang ada dirumah dan sesuai dengan motivasi bersama tim dokter RS UNAIR  bahwa kita akan berbagi bagaimana keluarga microtia ini dari tahun ke tahun”, kata Bagus. “Pesan saya untuk keluarga microtian yang lain baik yang masih usia, belia, remaja ataupun dewasa adalah lakukanlah hal yang positif, lakukanlah hal yang terbaik, belajar dengan giat, jangan gubris omongan orang lain, tunjukkan bahwa kamu bisa, tunjukkan bahwa kita tidak berbeda dengan yang lain, tunjukkan dengan prestasi dan lain-lain”, imbuh Bagus.

penulis : Ari Novita

FAMILY GATHERING KELUARGA MICROTIA INDONESIA BERSAMA RS UNAIR DI SEMARANG Reviewed by on . Keluarga microtia Indonesia menggelar acara Family Gathering para pasien dan keluarga dengan kelainan “Microtia”, Minggu 24 november 2019 bertempat di Kampung B Keluarga microtia Indonesia menggelar acara Family Gathering para pasien dan keluarga dengan kelainan “Microtia”, Minggu 24 november 2019 bertempat di Kampung B Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top