Thursday , 24 October 2019

Home Monitoring For Heart Failure Management

November 20, 2014 6:33 am Category: Artikel Kesehatan, Berita & Informasi, Slideshow

HOME MONITORING FOR HEART FAILURE MANAGEMENT

Amelia Ina Sadiati
Departemen / SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular
RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR SURABAYA

PENDAHULUAN

Penderita gagal jantung kronis sering mengalami hospitalisasi berulang yang tidak hanya disebabkan oleh progresifitas penyakit yang mendasari namun lebih sering karena ketidak-patuhan terhadap pengobatan, pengawasan diri yang kurang baik dan dukungan keluarga pasien yang tidak adekuat. Gagal jantung menantang untuk ditangani karena pada populasi pasien tua sering tidak terdeteksi adanya onset dekompensasi dan kompleksitas dari perubahan gaya hidup yang dibutuhkan, regimen pengobatan, monitoring laboratorium dan interaksi dengan kondisi komorbid.

MANAJEMEN DAN PERAWATAN DIRI SENDIRI

Prognosis pasien dengan gagal jantung kronis (CHF) tidak hanya tergantung dari terapi farmakologis namun juga aspek nonfarmakologis. Program edukasi menyeluruh pada perawatan CHF meliputi pemahaman penyebab CHF, gejala, diet, restriksi garam dan cairan, regimen pengobatan, kepatuhan, aktivitas fisik, perubahan gaya hidup.

PENGENALAN TERHADAP GEJALA

Pasien dan keluarga yang merawat harus diberi penjelasan mengenai seluruh gejala yang menandakan adanya perburukan. Pasien harus memahami gejala mana yang dimaksud dan perburukan apa yang mungkin timbul. Gejala perburukan mendadak seperti paroksismal nokturnal dispneu, orthopnea, dan gejala lain yang harus segera dikomunikasikan ke dokter.

MANAJEMEN CAIRAN DAN SODIUM

Pedoman praktis untuk pasien gagal jantung juga mendemonstrasikan untuk restriksi diet sodium. Pembatasan konsumsi sodium 2-3 gram per hari direkomendasikan, berdasarkan konsensus ahli, untuk pasien gagal jantung simtomatis dengan terapi medis optimal termasuk diuretik. Diet tinggi sodium dikaitkan dengan keluaran pada populasi sehat, termasuk insiden hipertensi dan terkait dengan keluaran stroke dan gagal jantung. The Dietary Reference Intake merekomendasikan sodium untuk dewasa sehat ( usia 14-50 tahun ) yaitu 1.5 gram/ hari dan intake terbanyak yang masih bisa ditoleransi sebesar 2.3 gram/ hari.

Pemantauan berat badan harian merupakan bagian yang penting dari manajemen diri- sendiri. Pasien harus mengukur berat badan harian, pada jam dan alat ukur yang sama, dan merespon apabila terdapat penambahan berat badan mendadak >2 kilogram dalam 3 hari. Tidak disarankan adanya restriksi cairan rutin pada pasien stabil dengan gagal jantung ringan hingga sedang. Restriksi cairan sebesar 1,5-2 liter/hari dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala berat. Dari literatur disebutkan bahwa kepatuhan terhadap pemantauan berat badan ≥6 dari 7 hari akan menurunkan angka hospitalisasi dan kunjungan ke bagian emergensi terkait gagal jantung.

MANAJEMEN NUTRISI DAN BERAT BADAN

Obesitas dikaitkan dengan efek samping terhadap hemodinamik dan fungsi serta struktur kardiak, termasuk hipertrofi ventrikel kiri eksentrik dan abnormalitas sistolik dan diastolik, serta kemunginan aritmia ventricular dan kematian mendadak. Di sisi lain, gagal jantung dapat menyebabkan body wasting bahkan kakeksia. Intake nutrisi yang kurang bisa diakibatkan dari menurunnya nafsu makan, disfungsi hati dan pencernaan, inflamasi sistemik, dan mekanisme aktivasi neurohormonal.

Kakeksia kardiak didefinisikan sebagai penurunan berat badan >6% dari berat badan stabil sebelumnya tanpa adanya bukti retensi cairan selama 6 bulan terakhir. Pada gagal jantung sedang hingga berat, pengurangan berat badan sebaiknya tidak rutin direkomendasikan karena seringnya didapatkan masalah anoreksia dan penurunan berat badan. Penurunan berat badan pada pasien obese (BMI >30 kg/m2) dengan gagal jantung sebaiknya dipertimbangkan untuk mencegah progresifitas gagal jantung, mengurang gejala, dan memperbaiki kualitas hidup.

MEROKOK DAN ALKOHOL

Konsumsi alkohol dan merokok dikaitkan dengan berbagai penyakit kardiovaskular. Efek samping yang ditimbulkan akibat merokok dan konsumsi alkohol lebih dari tiga kali per hari antara lain peningkatan tekanan darah, berpotensi terjadi aritmia, efek inotropik negatif, dan peningkatan trigliserida sehingga resiko stroke dan gagal jantung kongestif meningkat.13

AKTIVITAS FISIK

Standar rekomendasi untuk latihan secara umum termasuk aktivitas aerobik dilaksanakan minimal 20 menit, tiga kali / minggu, dengan parameter spesifik yang mendefinisikan intensitas latihan, durasi dan frekuensi. Pada kebanyakan seting klinis, intensitas 60-70% dari denyut jantung rmaksimal.

IMUNISASI

Gagal jantung berasosisasi dengan frekuensi dekompensasi dan admisi pada pusat pelayanan emergensi yang bisa diakibatkan infeksi respirasi. Vaksin untuk mencegah infeksi Influenza dan Pneumococcal direkomendasikan untuk dilakukan setahun sekali pada pasien dengan gagal jantung simtomatis. Belum ada studi randomisasi yang spesifik meneliti imunisasi pada pasien gagal jantung. Namun studi lain menunjukkan efek yang menguntungkan yaitu mengurang angka hospitalisasi, terutama pada pasien tua yang menderita gagal jantung.14

AKTIVITAS SEKSUAL

Masalah seksual dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan gagal jantung lanjut. Seperti aktivitas fisik lainnya, aktivitas seksual dapat memicu eksaserbasi gejala. Kebutuhan metabolic aktivitas seksual sebanding dengan latihan ringan (selama fase pre-orgasmik, kebutuhan respon seksual ekuivalen dengan 2-3 metabolic equivalents of task (METs)), sedangkan energi selama fase orgasmik adalah 3-4 METs. Konseling diperlukan pada pasien gagal jantung wanita dan pria beserta pasangannya. Sebagai tambahan, terapi dengan nitrogliserin sebagai profilaksis terhadap sesak dan nyeri dada mungkin dapat diberikan.

DEPRESI

Gejala depresi sering didapatkan pada pasien dengan gagal jantung, dan hal ini terkait dengan keluaran yang buruk. Beberapa gejala depresi (misal lelah, gangguan fungsional, penurunan nafsu makan, dan sulit tidur) mirip dengan gejala gagal jantung. Adanya overlap antara gejala yang mencerminkan disfungsi ventrikel berat pada gagal jantung dan gejala yang mencerminkan depresi menunjukkan adanya keterkaitan potensial antara gejala depresi dengan kejadian sampingan.

Pengobatan depresi dapat bervariasi baik farmakologis maupun non farmakologis. Adanya keterkaitan antara penggunaan serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dengan hiponatremia, mengindikasikan pasien yang mendapat terapi SSRI harus dimonitor tingkat sodiumnya selama terapi aktif.

SLEEP DISORDERED BREATHING

Sleep apnea merupakan faktor yang meningkatkan resiko terjadinya henti jantung mendadak nokturnal pada pasien gagal jantung kronis, karena menginduksi ketidakstabilan elektrik kardiak yang bermanifestasi sebagai T wave alternans (TWA). Pasien didiagnosa sleep apnea apabila terdapat >10-15 episode apnea-hipopnea setiap jam selama tidur. Pedoman merekomendasikan penurunan berat badan pada pasien yang kelebihan berat badan, berhenti merokok, dan berhenti mengkonsumsi alkohol. Perawatan dengan continuous positive airway pressure (CPAP) baik lewat nasal atau facemask perlu dipertimbangkan pada obstructive sleep apnea (OSA) yang sudah dikonfirmasi dengan polisomnografi.

BEPERGIAN

Pasien dengan gagal jantung kronis yang stabil dalam 6 minggu tanpa perubahan gejala atau medikasi lebih dapat bertoleransi pada hipoksia ringan pada lingkungan kabin pesawat meskipun pada kondisi gagal jantung lanjut. Pada pasien dengan NYHA kelas III dan IV sebaiknya mempertimbangkan pendamping dan meminta disediakannya oksigen dalam pesawat.

MONITORING PASIEN

Manajemen perawatan gagal jantung di rumah berpotensi megungkapkan kondisi klinis pasien, kondisi psikis dan kemampuan untuk merawat diri sendiri. Dari studi WHICH trial didapatkan kesimpulan bahwa manajemen perawatan di rumah tidak lebih superior daripada perawatan di klinik dalam hal mengurangi angka kematian dan hospitalisasi. Namun, manajemen perawatan di rumah berkaitan dengan biaya perawatan yang lebih rendah, juga lama hospitalisasi yang lebih pendek.

Parameter yang digunakan sebagai pemantauan pada pasien gagal jantung antara lain
a. Data yang dilaporkan pasien : tanda dan gejala kongesti, berat badan harian,. konsumsi garam, ketaatan terhadap pengobatan
b. Data laboratorium : INR, BNP dan NT pro BNP
c. Data yang langsung direkam : detak jantung, tekanan darah, aritmia
Pasien dihimbau untuk bertanya mengenai obat-obatan yang diberikan, dan informasi mengenai kondisi tiap pasien dijelaskan oleh dokter. Pentingnya gejala yang berhubungan dengan kondisi perburukan juga didiskusikan dengan pasien. Pengukuran berat badan secara rutin, jumlah garam yang dikonsumsi juga harus dicatat.

KESIMPULAN

Pemantauan di rumah pada pasien dengan gagal jantung dapat meluas dari kunjungan ke rumah dan promosi perawatan diri-sendiri hingga telemonitoring. Kecanggihan teknologi memungkinkan perkembangan teknik home monitoring lebih lanjut, termasuk sensor hemodinamik implant, yang cukup menjanjikan.
Penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan strategi monitoring dan manajemen diri pasien gagal jantung di rumah masih diperlukan untuk mencapai keuntungan yang lebih baik.

Home Monitoring For Heart Failure Management Reviewed by on . HOME MONITORING FOR HEART FAILURE MANAGEMENT Amelia Ina Sadiati Departemen / SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR SURABAYA PENDAHU HOME MONITORING FOR HEART FAILURE MANAGEMENT Amelia Ina Sadiati Departemen / SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR SURABAYA PENDAHU Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top