Tuesday , 24 September 2019

Tata Laksana Fibrilasi Atrium: Kontrol Irama atau Laju Jantung

November 19, 2014 5:33 am Category: Artikel Kesehatan

Heart-Disease

EPIDEMIOLOGI

Fibrilasi atrium (atrial fibrillation, AF) adalah takikardia supraventrikular dengan karakteristik aktivasi atrium yang tidak terkoordinasi. AF adalah gangguan irama yang paling sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. AF dialami oleh 1-2% populasi dan meningkat dalam 50 tahun kedepan. Di Amerika Serikat diperkirakan 2,3 juta penduduk menderita AF dengan >10% berusia di atas 65 tahun dan diperkirakanakan terus bertambah menjadi 4,78 juta pada tahun 2035.1 AF digambarkan sebagai suatu epidemic kardiovaskular yang menyebabkan beban ekonomi pada Negara berkembang.

AF adalah factor risiko kuat untuk kematian dengan peningkatan 1,5-1,9 kali dalam analisis Framingham. AF juga dihubungkan dengan peningkatan 5 kali kejadian stroke dan factor penyebab dari 5% kejadian emboli di serebral. AF menyebabkan gagal jantung kongestif terutama pada pasien yang frekuensi ventrikelnya tidak dapat dikontrol.

DEFINISI

Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Ketidakteraturan interval RR yaitu tidak ada pola repetitive pada EKG.
  2. Tidak ada gambaran gelombang P yang jelas pada EKG.
  3. Siklus atrial (jikaterlihat) yaitu interval di antara dua aktivasi atrial sangatbervariasi (<200 ms) atau>300 kali per menit.

KLASIFIKASI FIBRILASI ATRIUM6

Secara klinis,terdapat 5 tipe AF yang dapat dibedakan berdasarkan presentasi dan durasi aritmia. 1. First diagnosed AF: setiap pasien yang baru pertama kali terdiagnosis dengan AF tanpa melihat durasi atau beratnya gejala yang ditimbulkan oleh AF tersebut. 2. Paroxysmal AF: AF yang biasanya hilang dengan sendirinya dalam 48 jam sampai 7 hari. Jika dalam 48 jam belum berubah ke irama sinus maka kemungkinan kecil untuk dapat berubah ke irama sinus lagi sehingga perlu dipertimbangkan pemberian antikoagulan. 3. Persistent AF: episode AF yang bertahan sampai lebih dari 7 hari dan membutuhkan kardioversi untuk terminasi dengan obat atau dengan elektrik. 4. Long standing persistent AF: episode AF yang berlangsung lebih dari 1 tahun dan strategi yang diterapkan masih control irama jantung (rhythm control). 5. Permanent AF: jika AF menetap dan secara klinis dapat diterima oleh pasien dan dokter sehingga strategi managemen adalah tatalaksana control laju jantung (rate control).

TATA LAKSANA FIBRILASI ATRIUM

Tatalaksana umum pada pasien AF mempunyai 5 tujuan: 1. Pencegahan kejadian tromboemboli, 2. Mengatasi simtom terkait AF, 3. Tata laksana optimal terhadap penyakit kardiovaskular yang menyertai, 4. Mengontrol laju jantung. 5. Memperbaiki gangguan irama.

Terapi pada pasien AF yang persisten masih kontroversi apakah berusaha untuk mempertahankan irama sinus atau membiarkan pasien dalam irama AF dan mengontrol laju jantung. Sampai saat ini pada tahap awal para klinisi tetap berusaha mempertahankan irama sinus dengan kardioversi dan obat anti aritmia. Mempertahankan irama sinus mempunyai beberapa keunggulan: meningkatkan hemodinamik dan respons ventrikel kiri; restorasi fungsi sistolik atrium; mengurangi laju jantung sehingga mencegah terjadinya takikardiomiopati; mencegah terjadinya remodelling miokard; mengurangi gejala dan meningkatkan kapasitas fisik; meningkatkan kualitas hidup; mengurangi episode silent AF; mengurangi kejadian tromboemboli; meningkatkan angka kesintasan.

Anti aritmia yang saat ini ada berhubungan dengan efeks amping proaritmia walaupun kejadiannya jarang (contohnya torsade de pointes); dibutuhkan monitoring saat memulai terapi anti aritmia untuk mencegah terjadinya efek samping dan penghentian terapi bila
Ditemukan aritmia. Secara umum, risiko efek samping anti aritmia merupakan dasar pemilihan jenis terapi mempertahankan irama sinus. Anti aritmia kelas I seperti propafenon dan flekainid harus dihindari pada pasien dengan penyakit jantung struktural. Selain itu, anti aritmia kelas III yang banyak digunakan, amiodaron, dapat menyebabkan kejadian nonkardiak serius bila digunakan jangka panjang.

Tujuan mengontrol laju jantung pada AF yang persisten adalah untuk meminimalkan gejala, mencegah takikardia saat aktivitas sehari hari dan memulihkan laju jantung agar lebih fisiologis. Secara umum dipercaya laju jantung yang ideal untuk aktivitas yaitu 60-80 kali per menit saat istirahat dan 90-115 kali permenit saat aktivitas agar memungkinkan hemodinamik jantung yang lebih fisiologis dan efektif seperti waktu pengisian ventrikel yang cukup.

Pada 10 tahun terakhir telah dilakukan beberapa penelitian mengenai manajemen AF, apakah usaha mempertahankan irama sinus terbukti lebih unggul dibandingkan mengontrol laju jantung. Dibandingkan dengan obat anti aritmia, maka obat yang digunakan untuk mengontrol laju jantung, yaitu antagonis kanal kalsium, seperti diltiazem dan verapamil, penyekat beta adrenoseptor, dan digoksin memiliki efek samping yang lebih ditolerir dan tidak membutuhkan hospitalisasi saat inisiasi terapi dilakukan, tetapi obat- obat ini tidak mengobati penyebab AF. Obat-obat ini dapat digunakan secara kombinasi untuk mencapai laju jantung yang diinginkan, baik saat istirahat maupun denganaktivitas. Kombinasi yang digunakan adalah dalam dosis yang kecil untuk mencegah efek samping.

Ditulis oleh : Fani Suslina Hasibuan

Tata Laksana Fibrilasi Atrium: Kontrol Irama atau Laju Jantung Reviewed by on . EPIDEMIOLOGI Fibrilasi atrium (atrial fibrillation, AF) adalah takikardia supraventrikular dengan karakteristik aktivasi atrium yang tidak terkoordinasi. AF ada EPIDEMIOLOGI Fibrilasi atrium (atrial fibrillation, AF) adalah takikardia supraventrikular dengan karakteristik aktivasi atrium yang tidak terkoordinasi. AF ada Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top